Shape Shape Shape Shape
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Penerapannya di Bulan Puasa

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Penerapannya di Bulan Puasa

Keselamatan dan kesehatan kerja penerapannya tetap dilaksanakan secara konsisten di bulan puasa memang memiliki tantangan tersendiri. Kendala yang muncul biasanya merupakan kombinasi antara faktor fisiologis manusia, budaya kerja, hingga tekanan target produksi.

Berikut adalah beberapa kendala utama yang sering dihadapi dalam penerapan K3 selama bulan Ramadan:

1. Penurunan Kapasitas Fisik dan Kognitif

Ini adalah kendala yang paling alami namun paling sulit dikendalikan.

  1. Hipoglikemia (Kadar Gula Darah Rendah): Menjelang sore, otak sering kekurangan suplai energi, yang menyebabkan penurunan fokus dan kecepatan reaksi. Dalam pekerjaan teknis, ini meningkatkan risiko human error.
  2. Dehidrasi: Kurangnya cairan tubuh dapat menyebabkan pusing dan kelelahan otot, yang sangat berbahaya bagi pekerja di sektor konstruksi atau manufaktur yang terpapar panas.
  3. Gangguan Pola Tidur: Perubahan waktu bangun untuk sahur sering kali tidak dikompensasi dengan tidur lebih awal, menyebabkan micro-sleep (tertidur sesaat) saat bekerja.
2. Tekanan Target vs. Kondisi Tubuh
  1. Kejar Tayang Sebelum Lebaran: Banyak industri (terutama logistik dan manufaktur) mengalami lonjakan permintaan menjelang Idul Fitri. Hal ini memaksa pekerja lembur atau bekerja lebih cepat di saat kondisi fisik mereka sebenarnya sedang menurun.
  2. Ketidakseimbangan Beban Kerja: Seringkali tidak ada penyesuaian target produksi meskipun jam kerja dikurangi, sehingga intensitas kerja justru menjadi lebih tinggi dan memicu stres kerja.
3. Kendala Lingkungan dan Cuaca
  1. Paparan Panas Ekstrem: Di Indonesia, bulan puasa sering jatuh pada musim kemarau atau transisi. Bekerja di bawah terik matahari tanpa asupan air adalah tantangan K3 yang sangat besar terkait risiko Heat Exhaustion.
  2. Area Kerja Tertutup: Di pabrik yang kurang ventilasi, suhu ruangan yang tinggi mempercepat kelelahan pekerja yang sedang berpuasa.

Agar penerapan K3 tetap efektif dan tidak sekadar menjadi formalitas di bulan puasa, diperlukan pendekatan yang lebih empatik namun tetap tegas. Fokusnya adalah pada mitigasi risiko akibat penurunan kondisi fisik pekerja.

Berikut adalah saran penerapan praktis yang bisa diterapkan oleh perusahaan maupun pekerja:

1. Penyesuaian Jam Kerja dan Beban Tugas

Strategi ini adalah kunci utama untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan keselamatan.

  1. Geser Jam Kerja (Early Start): Mulailah pekerjaan lebih pagi saat energi dari sahur masih maksimal, sehingga pekerjaan berat bisa diselesaikan sebelum terik matahari menyengat.
  2. Prioritas Tugas Berisiko Tinggi: Jadwalkan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi atau kekuatan fisik besar (seperti bekerja di ketinggian atau pengelasan) pada pagi hari.
  3. Kurangi Lembur: Hindari lembur yang berlebihan karena akumulasi kelelahan dan kurang tidur dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja secara eksponensial.
2. Penguatan Pengawasan (Supervision & Monitoring)

Karena pekerja cenderung kurang fokus, peran pengawas menjadi dua kali lebih penting.

  1. Inspeksi Visual Berkala: Pengawas harus lebih aktif berkeliling untuk memantau tanda-tanda kelelahan ekstrem pada pekerja (pucat, sempoyongan, atau respon lambat).
  2. Buddy System (Sistem Berpasangan): Pastikan tidak ada karyawan yang bekerja sendirian, terutama di area berisiko. Rekan kerja harus saling memantau kondisi satu sama lain.
  3. Stop Work Authority: Berikan wewenang kepada pekerja untuk menghentikan pekerjaan jika mereka merasa kondisi fisiknya sudah tidak aman untuk melanjutkan tugas.
3. Fasilitas dan Lingkungan Kerja

Modifikasi lingkungan dapat membantu tubuh bertahan lebih baik selama puasa.

  1. Area Istirahat Berpendingin: Sediakan ruang istirahat yang sejuk dan nyaman. Suhu lingkungan yang rendah membantu menurunkan suhu inti tubuh dan mengurangi penguapan cairan (keringat).
  2. Akses Air Bersih untuk Cuci Muka: Meskipun tidak minum, membasuh wajah atau tangan dengan air dingin dapat memberikan efek segar sesaat yang membantu meningkatkan kewaspadaan.
4. Edukasi dan Komunikasi (Toolbox Talk)

Gunakan sesi pengarahan harian untuk membangun kesadaran diri.

  1. Materi K3 Tematik: Fokuskan pembahasan pada bahaya dehidrasi, cara mengatur pola tidur, dan pentingnya nutrisi sahur yang tepat.
  2. Transparansi Kondisi: Tekankan bahwa melaporkan kondisi tubuh yang lemas bukanlah tanda ketidakprofesionalan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan bersama.

Bulan Puasa bukan menjadi penghalang untuk penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja Perusahaan. Tetap terapkan dan junjung setiap aktivitas pekerja dan awasi setiap pekerjaannya demi Keseselamatan dan Kesehatan Kerja. Siapkan personel yang kompeten dengan mengikuti pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI bersama Artha Safety Indonesia