Shape Shape Shape Shape
P2H Alat Berat Penting untuk Cegah Kecelakaan & Kerusakan

P2H Alat Berat Penting untuk Cegah Kecelakaan & Kerusakan

P2H Alat Berat : Langkah Awal Mengutamakan Keselamatan

Dalam industri pertambangan, konstruksi, dan perkebunan, alat berat adalah tulang punggung operasional. Namun, tenaga besar yang dihasilkannya juga menyimpan risiko kecelakaan yang fatal. Di sinilah Pengecekan dan Pemeriksaan Harian (P2H) menjadi krusial. P2H bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan garis pertahanan pertama dalam mencegah kegagalan mekanis yang membahayakan nyawa.

Apa itu P2H?

P2H adalah inspeksi visual dan fungsional yang dilakukan oleh operator sebelum unit mulai dioperasikan. Tujuannya adalah memastikan bahwa alat berat dalam kondisi Layak Operasi (Ready for Use) dan meminimalkan risiko kerusakan mendadak (breakdown) saat bekerja.

Manfaat dilaksanaan P2H pada Alat Berat

Melaksanakan P2H secara konsisten bukan sekadar memenuhi regulasi perusahaan, melainkan memberikan perlindungan menyeluruh dari berbagai aspek. Berikut adalah manfaat utamanya:

1. Menjamin Keselamatan Kerja (Safety First)

Manfaat paling utama adalah mencegah kecelakaan. Dengan mendeteksi kerusakan dini—seperti kebocoran rem atau selang hidrolik yang getas—operator dapat menghindari situasi berbahaya yang bisa mengancam nyawa diri sendiri maupun rekan kerja di sekitar area operasional.

2. Memperpanjang Usia Pakai Unit (Longevity)

Alat berat adalah aset mahal. P2H memastikan komponen-komponen kritikal selalu terlubrikasi dan berfungsi normal. Masalah kecil yang terdeteksi saat P2H dan segera diperbaiki akan mencegah kerusakan sistemik yang bisa memperpendek umur ekonomis mesin.

3. Menekan Biaya Perbaikan (Cost Efficiency)

Mencegah jauh lebih murah daripada memperbaiki.

  1. Contoh: Mengetahui level oli mesin rendah saat P2H hanya membutuhkan biaya tambah oli. Namun, jika dibiarkan hingga mesin macet (engine jam), biaya perbaikannya bisa mencapai ratusan juta rupiah.
4. Meningkatkan Produktivitas & Mengurangi Downtime

Unit yang tiba-tiba rusak di tengah jalur produksi akan menyebabkan kemacetan operasional (bottleneck). Dengan P2H, jadwal perbaikan dapat direncanakan (Planned Maintenance), sehingga tidak mengganggu target produksi harian.

5. Bukti Kepatuhan Hukum & Administrasi

Dalam audit K3 (SMK3) atau investigasi kecelakaan, formulir P2H adalah bukti legal bahwa operator dan perusahaan telah melakukan upaya pencegahan (due diligence). Ini melindungi semua pihak secara hukum jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Mengapa P2H Sering Terabaikan?

Seringkali, "kejar target" menjadi alasan operator melakukan P2H secara formalitas belaka (hanya centang di kertas). Padahal, mengabaikan satu baut yang kendur bisa mengakibatkan:

  1. Kecelakaan Kerja: Rem blong atau kegagalan sistem hidrolik.
  2. Biaya Perbaikan Bengkak: Kerusakan kecil yang dibiarkan akan merembet ke komponen mahal.
  3. Downtime: Alat berhenti beroperasi di tengah jam kerja produktif.
Penting: Jika ditemukan kerusakan yang masuk kategori "Critical", operator wajib memasang Danger Tag (Label Bahaya) dan melaporkannya kepada pengawas. Unit dilarang dioperasikan sampai dinyatakan aman oleh mekanik.
Tahapan Melakukan P2H yang Benar

P2H

Pengecekan sebaiknya dilakukan dengan metode "Walk Around Inspection" (berjalan berkeliling) searah jarum jam untuk memastikan tidak ada bagian yang terlewat.

1. Pemeriksaan Luar (Visual)
  1. Ban/Track: Periksa tekanan angin, keausan, atau adanya baut yang kendur/patah.
  2. Kebocoran: Lihat ke bawah unit. Apakah ada tetesan oli, air radiator, atau bahan bakar?
  3. Struktur: Periksa adanya keretakan pada boom, arm, atau bucket.
  4. Penerangan: Pastikan lampu kerja, lampu sein, dan lampu rotary berfungsi dengan baik.
2. Pemeriksaan Cairan & Kompartemen Mesin

Pastikan mesin dalam keadaan mati dan dingin saat mengecek:

  1. Level Oli: Oli mesin, oli hidrolik, dan oli transmisi.
  2. Sistem Pendingin: Air radiator (jangan buka tutup radiator saat panas!).
  3. Bahan Bakar: Pastikan jumlahnya cukup dan tidak ada endapan air pada pemisah bahan bakar (water separator).
3. Pemeriksaan dari Atas Kabin
  1. Kaca Spion & Jendela: Harus bersih dan tidak pecah untuk visibilitas maksimal.
  2. Sabuk Pengaman: Pastikan pengunci berfungsi sempurna.
  3. Panel Instrumen: Cek apakah ada lampu indikator peringatan (warning lights) yang menyala saat kunci kontak di posisi 'ON'.
4. Uji Coba Fungsional (Running Test)

Setelah mesin dihidupkan, lakukan tes pada:

  1. Fungsi rem (Rem servis dan rem parkir).
  2. Sistem kemudi (Steering).
  3. Gerakan hidrolik (Naik-turun boom, bucket, dll).
  4. Klakson dan alarm mundur.

Jangan Kompromi dengan Nyawa! Pastikan P2H dilakukan dengan benar dan lengkapi kompetensi Anda dengan Sertifikasi Operator Pesawat Angkat & Angkut KEMNAKER RI. Jadilah operator yang kompeten mengutamakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bersama Artha Safety Indonesia. DAFTAR SEKARANG!